Tampilkan postingan dengan label conspiracy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label conspiracy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Agustus 2014

Ulama Murji’ah, Ulama Yang Ajarkan Agama Sesuai Keinginan Penguasa


Dikutip dari buku Da’wah Al-Muqawwamah Al-Islamiyyah Al-‘Alamiyyah’ atau Perjalanan Gerakan Jihad (1930 – 2002) Sejarah, Eksperimen, dan Evaluasi. 
***
Doktrin Murji’ah muncul bersamaan dengan kemunculan ulama penguasa, yaitu saat sistem monarki lahir dan sistem khilafah lenyap. Di sini, terjadi pemisahan antara penguasa dan Alquran.
Akidah menyimpang ini secara ringkas bisa digambarkan bahwa iman adalah pembenaran dengan hati dan pernyataan dengan lisan saja. Para penganut doktrin ini tidak memasukkan amal dari bagian makna iman.
Mereka berkata: iman adalah pembenaran dan kemaksiatan tidak akan membahayakan iman. Barangsiapa yang mengucapkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ kami hukumi Islam, tanpa peduli apa yang ia katakan atau perbuat setelahnya.
Mereka mengesampingkan semua kaidah nawaqidhul iman (hal-hal yang membatalkan iman) yang diterangkan oleh Al-Quran, Sunnah, dan pendapat-pendapat fuqaha yang terpercaya.
Ibnu Asakir meriwayatkan melalui jalur An-Nadhar bin Syumail, berkata, “Saya masuk ke tempat Al-Ma’mun, lalu dia bertanya, ‘Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Nadhar?’ Saya menjawab, ‘Baik-baik saja, wahai Amirul Mukminin.’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah Murji’ah itu?’ Saya menjawab, ‘Murji’ah adalah agama yang menyesuaikan para raja. Mereka mendapatkan kekayaan dunia dengan agama dan mengurangi agama mereka.’ Al-Makmun berkata, ‘Kamu benar.’”
Para fuqaha kerajaan mengambil doktrin tersebut hingga para ulama peneliti mengistilahkan mazhab Murji’ah sebagai agama (keyakinan) yang disukai para raja. Menurut mazhab ini, para penguasa tetaplah muslim, mereka waliyyul amr (pemegang urusan kita) yang berhak ditaati, walaupun mereka merampas harta dan mencambuk punggung kita. Umat ini tetap harus berkata, “Kami ridha.” Ya, mereka tetap muslim, walaupun mengambil harta rakyat dan mencambuk punggung.
Fuqaha kerajaan itu lebih melonggarkan lagi kepada mereka dengan tambahan; walaupun para penguasa melecehkan harga diri dan menumpahkan darah kita; walau mereka berteriak dengan kata dan perbuatan seperti para pendahulunya sesumbar, ‘Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?” (Az-Zukhruf: 51)
Walaupun, para penguasa tersebut terang-terangan mengatakan ketidakcocokan hukum syariah untuk zaman sekarang. Walaupun mereka mengangkat pelindung dari musuh-musuh Allah. Walau mereka berperang dan memberangkatkan tentara untuk berperang di bawah panji-panji Yahudi dan Nasrani untuk membunuh muslimin. Dan walau…walau… yang lain.
Fuqaha kerajaan itu beralasan: bukankah penguasa tersebut menunaikan shalat Idul Fitri dan Idul Adha? Bukankah dia merayakan maulid nabi? Bukankah dia berzina dengan alibi nikah mut’ah yang dibolehkan oleh sebagian fuqaha? Bukankah ketika penguasa menelanjangi muslim dan muslimah yang bukan budak di berbagai penjara dan menyiksa mereka ada dalilnya, yaitu perkataan Ali kepada utusan Hatib bin Abu Balta’ah, “Keluarkan suratmu atau kami akan menelanjangimu?”
Bukankah penguasa boleh membunuh sepertiga rakyatnya agar dua pertiga rakyatnya menyerah kepada dirinya. Semuanya itu ada dalil-dalilnya menurut anggapan para ulama palsu saat ini. Mazhab Murji’ah ini karena begitu longgarnya, berisikan para Musailamah tukang bohong!
Demikianlah, Imamul Ulama, Ibnu Utsaimin melakukan pengembangan dari mazhab Murji’ah dengan mengatakan -sungguh, apa yang dikatakannya adalah pendapat yang hampir-hampir bumi pun pecah dan gunung pun runtuh karena begitu tidak masuk akalnya-, “Katakan, andai penguasa itu dihukumi kafir, apakah itu berarti kita harus ikut mengobarkan kemarahan orang terhadap penguasa hingga terjadi pembangkangan, chaos dan peperangan? Tentu saja tindakan itu salah.”
Agar orang tidak salah memahami bahwa yang dia maksud adalah penguasa di negaranya –karena menurut Ibnu Utsaimin, mereka masih berhukum dengan syariat Islam, alhamdulillah- maka Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Seandainya penguasa di negara lain menjadi kafir, tetap saja tidak boleh keluar (memberontak)…”
Ucapannya yang seperti itu menantang pernyataan Alquran yang sharih (jelas), Sunnah yang shahih, dan ijma’ umat! Kemudian, Syaikh Al-Albani mengadopsi aliran kontemporer lain dalam kerangka mazhab Murji’ah, ia berkata, “Keluar (membangkang) penguasa pada masa sekarang ini sama saja keluar dari Islam itu sendiri.” Al-Albani bersaksi para penguasa Saudi Arabia itu tetap dalam keislaman mereka.
Selanjutnya, pembohong lain yang disebut sebagai mufti Agung Pakistan, Rafi’ Utsmani berkata, “Orang-orang yang terbunuh karena membela diri melawan serangan tentara pemerintah Pakistan bukanlah syuhada!” Rafi’ Utsmani membantah hadits Rasulullah, “Barangsiapa terbunuh membela hartanya, keluarganya, atau darahnya, atau agamanya, maka dia mati syahid.” (HR Abu Daud: 4774)
Rafi’ Utsmani juga menyatakan bahwa orang-orang Amerika dan kaki tangannya termasuk musta’man (non muslim luar yang dijamin keamanannya karena adanya perjanjian tertentu) sekaligus dzimmi (non muslim yang tinggal di negara Islam yang harus dilindungi harta, jiwa, dan kehormatannya selama mau membayar pajak), tidak boleh diganggu di Pakistan atau di negara mereka.
Rafi’ juga mencabut fatwa sebelumnya yang membolehkan operasi istisyhad (bom berani mati syahid). Ia berkata, “Kita tidak terbebani wajib jihad, kecuali apabila pemerintah (Presiden Musyarraf) menyerukannya.”
Ini seperti kasus ketika Dhiyaul Haq menyerukan jihad melawan Rusia. Mufti berkata, barangsiapa bertempur bersama Amerika melawan kaum muslimin, dia hanya berdosa saja dan tidak kafir dan bahwa berhukum dengan selain hukum Allah itu berdosa, namun tidak mengeluarkan dari Islam. Paling banter itu adalah kufur kecil.
Itulah yang kebanyakan terjadi pada para imam dakwah dan ilmu agama dari kelompok Murji’ah modern pada masa sekarang ini, baik yang sudah mangkat atau pun yang masih hidup dan berbuat demikian.
Hal yang patut digarisbawahi mengenai aliran politik Murji’ah adalah, mereka mau bertenggang rasa pada perilaku para raja dan penguasa, tetapi mereka tidak mau bertenggang rasa pada aksi para mujahid dan aktivis dakwah yang istiqamah. Mereka berani menghukumi para mujahidin sebagai anjing-anjing penghuni neraka! Mereka itu harus dibunuh, disalib, dipotong silang tangan dan kakinya, serta harus diusir dari tempat kediamannya di dunia ini.
Aliran Murji’ah ini mempertanyakan, “Bagaimana mujahidin membunuh Nasrani yang duduk di negeri kita dengan izin dari penguasa kita sehingga dia telah menjadi musta’mindan mu’ahid! Bagaimana boleh para penjahat dari orang-orang yang menyerukan jihad itu lalu menumpahkan darah salibis yang ‘suci’! Bagaimana boleh mereka melanggar jaminan keamanan penguasa murtad yang memberinya hak aman?”
Satu catatan aneh dan mengherankan dari fenomena aliran Murji’ah politik adalah bahwa para pemimpin mereka dari ekstrin tasawuf hingga yang disebut ekstrim salafi, atau Asy’ari, Maturidi, dan aliran Ahli Hadits memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang zat, asma, dan sifat Allah.
Namun subhanallah, mereka justru sepakat dalam hal keislaman penguasa (murtad), nama-nama, dan sifat-sifatnya, seperti yang terjadi di Maroko dan Pakistan, yang aliran ini eksis di sana. Aliran Murji’ah politik ini mau bersikap longgar kepada raja di bumi, tapi tidak mau bertenggang kepada Raja langit dan bumi serta isinya.
Penulis tampaknya tidak menemukan justifikasi bagi fenomena mazhab ini ketika mereka memilih dunia politik dan aktivitas demokrasi, kecuali dengan menggolongkan mereka sebagai bagian dari al-mala’ (kroni-kroni). Sebab, mereka akan masuk kedalam parlemen (institusi yang membuat hukum selain hukum Allah) dan masuk pemerintahan (institusi yang menerapkan hukum selain hukum Allah). Lantas, bagaimana mereka kemudian mengingkari penguasa, sedangkan mereka sudah masuk dalam golongan, sekutu, dan kroninya?
Lalu, apa solusinya? Solusinya adalah dengan tidak masuk kedalam institusi-institusi tersebut atau dengan menyatakan keislaman penguasa tersebut! Dan ternyata mereka lebih memilih yang mudah dan enak, yaitu menyatakan keislaman penguasa murtad yang menantang Allah dengan perang dan permusuhan, serta mencabut hak paling khusus Allah berupa uluhiyah.

Ref - Syeikh Abu Mus’ab Assuri

Minggu, 24 April 2011

Conspiracy Behind the Japanese Second Tsunami

After I discussed earlier about the Japanese tsunami conspiracy only through the Illuminati Card Game card. Now I want to explain the problem HAARP, a U.S. weapons which in rumor was a cause of the Japanese tsunami.

Maybe there among you who do not know about HAARP?

I will discuss a little bit about this HAARP.


Prior to the issue of this weapon out former White House security adviser Zbigniew Brzezinski called once wrote in his book "Between Two Ages". In his book, he writes: 

"The technology will provide a technique to conduct a secret war that only requires a little troop of force, such as techniques to modify the weather that can cause prolonged storm." 

The United States has succeeded in making an ultimate weapon that will bring victory to them in any battle and bring it into the sole ruler of the world. I mean the weapon is a facility that can be used to manipulate the weather and climate so as to create disasters such as hurricanes, earthquakes and tsunamis in the desired place is Harrp. 

So if the first if you want to create a tsunami should thermonuclear bomb to blow up the ocean floor, it is not necessary anymore because there Harrp more efficient and neat as controlled remotely.

H.A.A.R.P
(High Frequency Active Auroral Research Program)

What is the HAARP? 

HAARP is an investigation project that aims to "understand, stimulate, and control ionospheric processes that can alter the performance of communication and surveillance system". Started in 1992.


Who is using HAARP? 

This project undertaken jointly by the U.S. Air Force, U.S. Navy Air Force, and the University of Alaska.





Explanation 

It is said that this project is similar to several ionospheric heaters spread across the world and has a large portion of diagnostic instruments that facilitate its use to increase scientific understanding of ionospheric dynamics. Although feared would be used as a weapon of mass destruction, the scientists involved in Aeronomy, space science, or plasma physics theory ignores these fears as unfounded.



What is the Ionosphere? 

Ionosphere is the top and most important in our earth's atmosphere. Ionosphere is very important because he chaya radiation filter to avoid direct sun fell to earth. Ionosphere plays a role in regulating the levels of electricity in the atmosphere and forms the core of the edge of the magnetosphere. Ionosphere also has other uses for humans, which affects radio waves from distant places on Earth.


Where HAARP placed? 

HAARP is located in Alaska, USA. More precisely HAARP in Gakona, Alaska (latitude: 62.39, longitude: 145.15) which is located in the west of the National Park Wrangell-Saint Elias.
The environmental impact caused by HAARP trigger permit statement for an array of up to 180 antennas to be erected.


What function of HAARP? 

The purpose of this program is to further advance in the study of the physical and electrical properties of the earth that can be used in the future facilitate military communications. But other than that, HAARP can also set the weather through the ionosphere, such as making rain, storms, tsunamis, and many are not yet known.

HAARP it works by heating the ionosphere that is in the heavens so that it can manipulate the state of the surrounding sky. With these advantages, HAARP was used as a military necessity.


So what relation Harrp with the Japanese tsunami? 
What might the U.S. use Harrp to attack japan? 

Instead thought I should tell you that nonsense, let's take a look together HAARP website to see if there is evidence that ran parallel with the theories konspirasi.kemudian you can judge for yourself. HAARP site is located at the following address: 
http://www.haarp.alaska.edu/haarp/index.html 
look on 5-10 March 2011


Based on these results, there is almost no sign of electromagnetism from March 5 to 8. On Wednesday, March 9, HAARP showed a large spike in the frequency of the signal Magnetometer. This intensity is maintained on March 10 as well. On March 11, the Japanese earthquake and tsunami, looks like:


HAARP activity from March 9 to March 11 was in hard labor.
Is a sudden ionospheric disturbances driven by modification of high power radio transmitter and backscatter radio waves of HAARP results in intense disturbance of the earth's magnetosphere?
HAARP reactions always lead to a strange light in the sky or fog.
Previously let's look at the sky conditions in China during a strong earthquake, in report caused by Haarp..








Compare with sky conditions in Japan before the tsunami arrived.



What might the cause of Japanese tsunami caused by HAARP U.S. Military project?
Even if it is true then what motive the U.S. do it?
Is there convincing evidence that the U.S. is involved in the tragedy of the Japanese tsunami?

All the questions that I will discuss further in the next post but first do not forget to comment?.

I only show the data that I obtained.
Let your own to make assessment  about it. And check of other references..

Postingan Lama Beranda